Rabu, 17 Maret 2010

Tokoh - Muhammad Syafe'i



Sejarah mencatat, sampai dengan tahun 1970-an Minangkabau adalah "gudang para pemimpin Republik". Saatnya untuk kembali berbenah diri, menggali kembali budaya Minang (etos kerja, falsafah hidup, adat dan tradisi Minang) menjadikannya "pupuk" untuk memupuk tanaman yang bernama "Indonesia".

Menurut Dr. Farid Anfasa Moelok, SpOG (K), mantan Menteri Kesehatan RI yang pernah sekolah di Kayutanam , Rabu pagi tadi, hal itu disebabkan Sumatera Barat memiliki lembaga pendidikan setingkat SMA yang hebat. Ketika Jawa memiliki tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa maka Sumatera Barat pun mempunyai tokoh pendidikan yang tak kalah hebat yakni Engku Muhammad Syafei dengan Sekolah Menengah INS Kayutanam, yang terletak antara Padang dan Bukit Tinggi.

INS Kayutanam didirikan oleh Engku Muhammad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam, sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Sejak berdiri hingga perang kemerdekaan, perguruan ini telah berkibar namanya, bersamaan dengan berkibarnya nama Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di pulau Jawa.

Sebagai lembaga pendidikan swasta, INS mengalami pasang surut di dalam kemajuan dan perkembangannya, namun demikian “ruh” pendidikan INS yang dikibarkan oleh Engku Muhammad Syafei tetap hidup, dan bahkan kemudian diakui oleh Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan sistem pendidikan nasional.

Pola pendidikan yang dianut dan diterapkan di INS adalah pendidikan berbasis talenta, ini didasarkan pada falsafah Minang yang tersimpul melalui ungkapan,
“Alam terkembang jadi guru” (belajarlah dari alam dan pelajarilah alam itu), dan ucapan Engku Syafei, “Janganlah minta buah mangga kepada pohon rambutan, tetapi jadikanlah setiap pohon menghasilkan buah yang manis! (setiap insan memiliki talenta berbeda), serta, “Jadilah engkau menjadi engkau!”

Oleh karena itu, dasar pendidikan di INS Kayutanam ini adalah mendorong tumbuh dan berkembangnya bakat bawaan (talenta) yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Ini yang “membedakan” pendidikan menengah di INS dengan pendidikan menengah yang kita kenal sebagai Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), atau Sekolah Menengah Kejuruan(SMK). “Perbedaan” juga terdapat dalam hal sebagai berikut :

Mata pelajaran Bahasa Indonesia (yang terkait dengan aspek akademik) di INS Kayutanam digunakan untuk merangsang tumbuh dan berkembangnya talenta peserta didik dalam bidang

1) Jurnalis,
2) Cerpenis,
3) Novelis,
4) Penulis Naskah:
• Drama,
• Skenario Filem,
• Skenario Sinetron (TV).
5) Penulis Buku,
6) Pengajar Bahasa Indonesia,
7) Penerjemah,
8) Editor Buku,
9) Editor Majalah,
10) Reporter TV,
11) Presenter TV,
12) Kejujuran,
13) Akhlak Mulia.

Hal yang sama juga berlaku untuk mata pelajaran matematika, bahasa inggris, fisika, biologi, kimia, dan mata pelajaran lainnya.

Alhasil peserta didik disiapkan untuk menjadi insan mandiri dan wirausahawan yang menciptakan lapangan kerja, bukan pegawai. Hal yang amat berbeda dengan pola pendidikan di Jawa yang disiapkan untuk menjadi pegawai negeri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

sampaikan komentar anda disini...

ingin penghasilan mudah lewat internet? join us, just click this link

Rabu, 17 Maret 2010

Tokoh - Muhammad Syafe'i



Sejarah mencatat, sampai dengan tahun 1970-an Minangkabau adalah "gudang para pemimpin Republik". Saatnya untuk kembali berbenah diri, menggali kembali budaya Minang (etos kerja, falsafah hidup, adat dan tradisi Minang) menjadikannya "pupuk" untuk memupuk tanaman yang bernama "Indonesia".

Menurut Dr. Farid Anfasa Moelok, SpOG (K), mantan Menteri Kesehatan RI yang pernah sekolah di Kayutanam , Rabu pagi tadi, hal itu disebabkan Sumatera Barat memiliki lembaga pendidikan setingkat SMA yang hebat. Ketika Jawa memiliki tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa maka Sumatera Barat pun mempunyai tokoh pendidikan yang tak kalah hebat yakni Engku Muhammad Syafei dengan Sekolah Menengah INS Kayutanam, yang terletak antara Padang dan Bukit Tinggi.

INS Kayutanam didirikan oleh Engku Muhammad Syafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayutanam, sebuah desa kecil di Sumatera Barat. Sejak berdiri hingga perang kemerdekaan, perguruan ini telah berkibar namanya, bersamaan dengan berkibarnya nama Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di pulau Jawa.

Sebagai lembaga pendidikan swasta, INS mengalami pasang surut di dalam kemajuan dan perkembangannya, namun demikian “ruh” pendidikan INS yang dikibarkan oleh Engku Muhammad Syafei tetap hidup, dan bahkan kemudian diakui oleh Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan sistem pendidikan nasional.

Pola pendidikan yang dianut dan diterapkan di INS adalah pendidikan berbasis talenta, ini didasarkan pada falsafah Minang yang tersimpul melalui ungkapan,
“Alam terkembang jadi guru” (belajarlah dari alam dan pelajarilah alam itu), dan ucapan Engku Syafei, “Janganlah minta buah mangga kepada pohon rambutan, tetapi jadikanlah setiap pohon menghasilkan buah yang manis! (setiap insan memiliki talenta berbeda), serta, “Jadilah engkau menjadi engkau!”

Oleh karena itu, dasar pendidikan di INS Kayutanam ini adalah mendorong tumbuh dan berkembangnya bakat bawaan (talenta) yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Ini yang “membedakan” pendidikan menengah di INS dengan pendidikan menengah yang kita kenal sebagai Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), atau Sekolah Menengah Kejuruan(SMK). “Perbedaan” juga terdapat dalam hal sebagai berikut :

Mata pelajaran Bahasa Indonesia (yang terkait dengan aspek akademik) di INS Kayutanam digunakan untuk merangsang tumbuh dan berkembangnya talenta peserta didik dalam bidang

1) Jurnalis,
2) Cerpenis,
3) Novelis,
4) Penulis Naskah:
• Drama,
• Skenario Filem,
• Skenario Sinetron (TV).
5) Penulis Buku,
6) Pengajar Bahasa Indonesia,
7) Penerjemah,
8) Editor Buku,
9) Editor Majalah,
10) Reporter TV,
11) Presenter TV,
12) Kejujuran,
13) Akhlak Mulia.

Hal yang sama juga berlaku untuk mata pelajaran matematika, bahasa inggris, fisika, biologi, kimia, dan mata pelajaran lainnya.

Alhasil peserta didik disiapkan untuk menjadi insan mandiri dan wirausahawan yang menciptakan lapangan kerja, bukan pegawai. Hal yang amat berbeda dengan pola pendidikan di Jawa yang disiapkan untuk menjadi pegawai negeri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

sampaikan komentar anda disini...

KutuKutuBuku.com


Masukkan Code ini K1-1BBA38-B
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Text Link Ads

kumpul blogger

Mini Banner

Dimanakah Anda Berada (sekarang) ?

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Countdown